Astagfirullah Miris Sekali .. Suami dan Mertua Malah Sibuk Sendiri, Dokter Terkejut Ketika Angkat Selimut Wanita ini, Ada Keluar Benda Mengerikan..

Posted on

Banyak calon ibu yang mengatakan bahwa hanya pada saat melahirkan anak barulah mereka bisa merasakan dingin atau hangatnya perasaan seorang manusia.
Ada ibu yang tidak berani melahirkan anak perempuan.
Bukan karena lebih mengutamakan anak laki-laki.
Tapi khawatir atau tidak tega anak perempuannya akan mengalami siksaan seperti dirinya saat melahirkan anak kelak.
Seperti misalnya yang dialami wanita ini.

Keluarga suami seorang wanita asal Tiongkok bernama Lolan yang berusia 27 tahun ini sangat bahagia saat mendengar kabar kehamilan Lolan.
Karena tinggal di daerah pedesaan dan sedang hamil, Lolan pun hanya tinggal di rumah dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang bisa dilakukannya.
Terkadang saat mertuanya pergi ke ladang, Lolan yang memasak di rumah.
Sementara suaminya bekerja di luar daerah dan jarang pulang.
Semula dia berpikir hari-hari yang dilaluinya akan berjalan lancar.
Tapi siapa sangka saat memasuki minggu ke 39 kehamilannya, air ketuban Lolan tiba-tiba pecah.
Panik, keluarganya segera membawanya ke rumah sakit.

Menurut dokter yang memeriksa, Lolan bisa melahirkan secara lancar.
Lolan pun menunggu persalinannya dengan perasaan campur aduk.
Sekitar jam 3 pagi kemudian, mulut rahim Lolan akhirnya dibuka, dan dia dibawa ke ruang persalinan.
Dibawah bimbingan dokter, akhirnya Lolan melahirkan dengan lancar seorang anak laki-laki.
Setelah membersihkan plasenta dan kotoran di tubuh bayinya, dokter menjahit kembali luka robekan Lolan.
Setelah selesai, Lolan yang menunggu sekitar dua jam di ruang observasi kemudian didorong keluar bersama anaknya.

Pada saat itu, suami dan ibu mertuanya yang menunggu dengan cemas diluar hanya memikirkan keadaan anak atau cucunya.
Sedikit pun tidak terlintas dalam benak mereka bagaimana dengan kondisi Lolan pasca melahirkan.
Mereka semua tertawa bahagia melihat anak yang baru menghirup udara bumi itu, dan berbincang-bincang mengenai sang bayi.
Sementara Lolan justru sangat sedih melihat mereka semua tampak begitu bahagia menyambut kelahiran anak atau cucu mertuanya itu.
Karena tidak ada seorang pun yang benar-benar peduli dengan keselamatan dan deritanya pada saat itu.
Setelah melihat anaknya, suami dan perawat kemudian mendorong ibu dan anak itu ke ruang pasien.

Tapi lima menit kemudian, Lolan berkata pada suaminya kalau dia merasa sekujur badannya dingin dan gemetar.
Bibirnya juga juga bergetar saat bicara.
Mendengar keluhan Lolan, suaminya pun segera memanggil dokter, dan suasana di ruang pasien sesaat menjadi sangat tegang.
Dokter periksa menyingkap selimut Lolan dan terkejut melihat bagian bawah Lolan penuh dengan genangan darah.
Dan darahnya terus bercucuran, tanda pendarahan hebat pasca persalinan.
Tim dokter segera melakukan upaya penyelamatan darurat.
Akhirnya dokter menemukan titik pendarahannya, dankemudian segera melakukan transfusi darah pada Lolan.
Dari percakapannya dengan Lolan, dokter yang menanganinya baru tahu ternyata sikap keluarga mertuanya di ruang persalinan tadi sangat membuat Lolan merasa tidak nyaman.
Sehingga hal ini membuatnya mengalami pendarahan hebat.

Dari kisah ini, kita semakin mengetahui kalau seorang wanita hamil perlu mendapat perhatian pasca melahirkan anak.
Dihimbau kepada anggota keluarga jangan hanya peduli pada anak yang baru lahir, lalu mengabaikan ibu yang melahirkannya.
Jangan sampai membuat perasaan/emosional ibu hamil bergejolak, agar tidak menimbulkan perdarahan hebat pada sang ibu.
Saat persalinan, wanita hamil itu membutuhkan perhatian ekstra.
Sepatah kata seperti “Bagaimana keadaanmu sayang?” akan membuat seorang ibu akan sangat senang mendengarnya, dan hal ini akan membantu memudahkan prosesnya dalam melahirkan.

sumber : tribunnews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *