Kampungberita.com/BOJONEGORO – Gelaran atraksi wisata budaya Reog Singo Manunggal di kawasan Waduk Sonorejo, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro, menjadi bukti bahwa potensi wisata daerah tidak hanya bertumpu pada kegiatan berskala besar di pusat kota. Melalui pengembangan atraksi wisata berbasis wilayah, destinasi lokal justru mampu menjadi magnet kunjungan masyarakat sekaligus menggerakkan perekonomian desa.
Kegiatan yang disambut antusias masyarakat tersebut menghadirkan pertunjukan Reog Singo Manunggal, kesenian tradisional kebanggaan warga Padangan. Selain menjadi ruang ekspresi dan pelestarian budaya lokal, kegiatan ini juga memperkenalkan potensi Waduk Sonorejo sebagai destinasi wisata air, edukasi, dan budaya.
Dukungan terhadap kegiatan tersebut terlihat dari kehadiran unsur pemerintahan kecamatan hingga pemerintahan desa. Camat Padangan hadir bersama seluruh unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), yakni Kapolsek Padangan, Danramil Padangan, serta Kepala Puskesmas Padangan.
Sementara itu, Kepala Desa Sonorejo selaku tuan rumah turut hadir bersama unsur Forum Koordinasi Pemerintahan Desa (Forkopimdes), meliputi Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD), Karang Taruna, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas Desa Sonorejo.
Kehadiran berbagai unsur tersebut mencerminkan pentingnya sinergi lintas sektor dalam mengembangkan potensi wisata daerah. Pengembangan pariwisata bukan semata-mata menjadi tanggung jawab Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), tetapi membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen pemerintahan dan masyarakat.
Dalam sambutannya, Camat Padangan menyampaikan apresiasi atas dipilihnya Waduk Sonorejo sebagai salah satu lokasi penyelenggaraan atraksi wisata dari 10 titik yang telah ditentukan.
Menurutnya, Waduk Sonorejo merupakan aset daerah yang memiliki potensi luar biasa. Waduk yang dibangun sejak era kolonial tersebut tidak hanya memiliki fungsi penting sebagai sarana irigasi pertanian, tetapi juga berpotensi dikembangkan menjadi destinasi wisata air, edukasi, dan budaya.
“Kami sangat berterima kasih kepada Ibu Elzadeba yang telah memilih Padangan, khususnya Sonorejo, sebagai salah satu dari 10 titik atraksi wisata. Ini menjadi kebanggaan warga Padangan. Apalagi yang ditampilkan Reog Singo Manunggal, reog kebanggaan kami sendiri. Penonton sampai dari Blora dan Tuban. Ini membuktikan bahwa budaya tidak mengenal batas administratif,” ujar Camat Padangan.
Ribuan Pengunjung Padati Waduk, UMKM Lokal Ketiban Berkah
Tidak hanya memberikan hiburan dan ruang pelestarian budaya, kegiatan tersebut juga memberikan dampak ekonomi secara langsung kepada masyarakat sekitar.
Sejak pagi hari, puluhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terlihat memadati kawasan parkir dan tanggul Waduk Sonorejo. Berbagai produk dagangan mulai dari pentol, es degan, kopi jati, aneka makanan ringan, keripik, hingga oleh-oleh khas Padangan ramai diburu pengunjung.
Bahkan, sejumlah pedagang dilaporkan kehabisan dagangan seiring meningkatnya jumlah pengunjung yang datang.
Berdasarkan catatan petugas parkir dari Karang Taruna Desa Sonorejo, hingga pukul 12.00 WIB tercatat lebih dari 1.500 unit sepeda motor dan sekitar 200 unit mobil memasuki kawasan wisata tersebut.
Antusiasme pengunjung juga datang dari luar Kabupaten Bojonegoro. Salah seorang penonton asal Cepu, Kabupaten Blora, mengaku sengaja datang bersama keluarganya setelah memperoleh informasi kegiatan melalui media sosial.
“Saya tahu dari Instagram Disbudpar Bojonegoro. Kebetulan saya penggemar Reog. Jarak Cepu ke Sonorejo hanya 15 menit. Acaranya luar biasa, gratis, dan tempatnya adem di pinggir waduk,” ungkapnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa promosi wisata melalui media sosial, ditambah atraksi budaya yang menarik, mampu memperluas jangkauan kunjungan wisatawan hingga lintas kabupaten.
Strategi Wisata Berbasis Wilayah Dinilai Lebih Merakyat
Penyelenggaraan atraksi wisata di 10 titik wilayah menjadi salah satu strategi untuk memperluas pemerataan kegiatan pariwisata di Kabupaten Bojonegoro.
Pendekatan ini memberikan kesempatan kepada setiap kecamatan untuk menampilkan identitas, kesenian, dan potensi unggulannya masing-masing. Selain itu, sanggar seni lokal memperoleh ruang untuk tampil, sementara pelaku UMKM mendapatkan peluang meningkatkan pendapatan.
Konsep tersebut juga dinilai mampu mendekatkan kegiatan pariwisata kepada masyarakat desa, sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh sektor pariwisata, tetapi juga pelaku usaha kecil, komunitas seni, dan masyarakat sekitar.
Ke depan, setiap lokasi diharapkan dapat memiliki identitas atau ikon atraksi wisata yang kuat dan berkelanjutan.
Apabila Galeri Bengawan Padang Trucuk dikenal dengan atraksi Jaranan dan wisata kebengawanan, maka Waduk Sonorejo Padangan diharapkan dapat berkembang sebagai salah satu panggung utama pertunjukan Reog sekaligus destinasi wisata air unggulan.
Waduk Sonorejo Berpotensi Menjadi Ikon Wisata Budaya Padangan
Pertunjukan Reog Singo Manunggal di Waduk Sonorejo ditutup sekitar pukul 13.00 WIB melalui doa bersama dan sesi foto bersama seluruh penari dengan latar belakang keindahan waduk.
Meski rangkaian pertunjukan telah berakhir, pengunjung masih terlihat menikmati suasana kawasan waduk. Sebagian masyarakat memilih bersantai, menikmati panorama alam, sekaligus berwisata kuliner di sekitar lokasi.
Momentum ini menjadi gambaran bahwa pengembangan wisata berbasis budaya memiliki potensi besar apabila dikelola secara kolaboratif dan berkelanjutan.
Perubahan pola penyelenggaraan kegiatan wisata yang sebelumnya identik dengan keramaian terpusat di perkotaan kini memberikan ruang lebih luas bagi desa-desa untuk menunjukkan keunggulan masing-masing.
Jika dikelola secara konsisten, Waduk Sonorejo bukan sekadar bangunan penampung air dan sarana irigasi peninggalan masa lalu, melainkan dapat berkembang menjadi destinasi wisata yang memiliki nilai sejarah, budaya, ekonomi, dan kebanggaan masyarakat.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah kegiatan wisata tidak hanya diukur dari kemeriahan pertunjukan atau banyaknya pengunjung, tetapi juga dari sejauh mana kegiatan tersebut mampu menghidupkan ekonomi masyarakat, menjaga warisan budaya, serta memberikan manfaat nyata bagi daerah.
Waduk Sonorejo telah menunjukkan bahwa ketika budaya, pariwisata, pemerintah, dan masyarakat berjalan beriringan, potensi desa dapat menjadi kekuatan besar bagi kemajuan Bojonegoro.
Red/tim










