Kue Seribuan Tika di Padangan Mampu Produksi hingga 35 Ribu Buah per Hari

aksesadim01
1000409659

Kampungberita.com/BOJONEGORO — Kreativitas dan inovasi menjadi salah satu kunci bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mengembangkan pasar. Hal itu terlihat dari usaha kue milik Tika di Jalan Diponegoro, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro, yang menawarkan berbagai jenis jajanan dengan harga hanya Rp1.000 per buah.

 

Meski mengusung konsep jajanan seribuan, usaha tersebut mampu memproduksi sekitar 30 ribu hingga 35 ribu kue setiap hari. Menariknya, seluruh hasil produksi diklaim selalu terserap pasar, baik melalui pembelian langsung maupun pesanan dari berbagai daerah.

 

Dengan kapasitas produksi tersebut, omzet kotor usaha dapat mencapai sekitar Rp30 juta hingga Rp35 juta per hari apabila seluruh produk terjual. Nilai tersebut merupakan omzet kotor yang belum dikurangi biaya bahan baku, tenaga kerja, distribusi, dan kebutuhan operasional lainnya.

 

“Semua kue harganya seribu rupiah. Alhamdulillah, kami produksi 30 sampai 35 ribu jajanan setiap hari dan habis,” ujar Tika.

 

Usaha tersebut terbilang masih muda. Tika menyebut bisnis jajanan seribuan itu baru berjalan sekitar tiga bulan. Namun, tingginya animo konsumen membuat kapasitas produksi berkembang cukup pesat.

 

Pasarnya pun tidak hanya berasal dari wilayah Bojonegoro. Pesanan juga datang dari sejumlah daerah lain, di antaranya Solo, Yogyakarta, hingga Cepu.

 

Berbagai jenis jajanan diproduksi setiap hari, mulai dari donat, roti, kukis, brownies, risol hingga beragam kue lainnya. Meskipun memiliki bentuk dan jenis berbeda, seluruh produk tersebut tetap ditawarkan dengan harga yang sama, yakni Rp1.000 per buah.

 

Strategi mempertahankan harga murah menjadi salah satu daya tarik utama usaha tersebut. Bahkan saat harga sejumlah bahan baku mengalami kenaikan, Tika memilih untuk tetap mempertahankan harga jual agar produknya dapat dijangkau lebih banyak konsumen.

 

“Kita jual murah karena kita produksi skala besar,” katanya.

 

Untuk menunjang produksi, Tika mempekerjakan sekitar 20 orang. Proses pembuatan kue dilakukan setiap hari, sedangkan aktivitas penjualan biasanya berlangsung mulai siang hingga malam.

 

Keberadaan usaha tersebut sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi lingkungan sekitar. Sedikitnya 20 tenaga kerja mendapatkan kesempatan bekerja, sementara aktivitas produksi dan distribusi turut menggerakkan roda perekonomian di Kecamatan Padangan.

 

Di tempat penjualan, masyarakat terlihat berdatangan untuk memilih berbagai jajanan yang tersedia. Harga yang relatif murah membuat konsumen dapat membeli dalam jumlah banyak, baik untuk kebutuhan keluarga maupun berbagai kegiatan dan acara.

 

Salah seorang pembeli, Rina, mengaku tertarik dengan konsep jajanan seribuan tersebut. Menurutnya, harga yang ditawarkan jauh lebih terjangkau dibandingkan sejumlah jajanan sejenis di kawasan perkotaan.

 

“Sangat puas beli kue di sini karena semuanya serba seribu. Kalau beli di kota mungkin harganya bisa Rp2 ribu sampai Rp3 ribu. Kalau di sini semuanya harganya seribu,” ungkapnya.

 

Kisah usaha Tika menunjukkan bahwa harga terjangkau tidak selalu berarti keuntungan kecil. Dengan mengandalkan produksi dalam jumlah besar, efisiensi, variasi produk, serta pasar yang luas, konsep jajanan seribuan justru mampu berkembang dan menyerap tenaga kerja.

 

Perkembangan UMKM seperti itu juga menjadi bagian dari dinamika ekonomi masyarakat di Kabupaten Bojonegoro. Penguatan kapasitas produksi, inovasi produk, strategi pemasaran, serta perluasan jaringan pasar menjadi faktor penting agar pelaku UMKM dapat terus tumbuh dan memiliki daya saing.

 

Usaha kue milik Tika di Padangan menjadi salah satu gambaran bahwa keberanian membaca kebutuhan pasar dan menjaga kualitas sekaligus harga produk dapat membuka peluang usaha yang lebih besar, bahkan dalam waktu relatif singkat.

(Red/com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *