Kampungberita.com
BANYUWANGI – Ramainya konten bertema “teror pocong” yang membanjiri media sosial warga Kabupaten Banyuwangi dalam beberapa hari terakhir memicu beragam spekulasi di tengah masyarakat. Di tengah kekhawatiran akan hal-hal mistis, muncul dugaan kuat bahwa fenomena ini bukan sekadar kabar angin, melainkan bagian dari operasi psikologis (psychological operations atau psyops) yang sengaja diciptakan untuk mengalihkan perhatian publik.
Spekulasi ini mencuat karena pola penyebaran informasi yang sangat masif, terkoordinir, dan terjadi secara serentak di berbagai grup WhatsApp dan status media sosial. Banyak pihak menilai, ketakutan massal ini bisa jadi merupakan strategi untuk menutupi atau mengalihkan sorotan dari isu-isu lain yang lebih substansial dan penting di wilayah tersebut.
Peringatan Agar Tidak Terpancing Emosi
Menanggapi hal tersebut, sejumlah pengamat sosial dan tokoh masyarakat mengimbau agar warga tidak terlalu menanggapi serius atau terbawa emosi oleh narasi horor yang beredar. Mereka menekankan pentingnya berpikir kritis dan rasional.
“Ini kemungkinan besar adalah bentuk psyops atau pengalihan isu. Tujuannya biasanya ada pihak tertentu yang ingin menciptakan kegaduhan atau ketakutan massal supaya perhatian publik teralih dari masalah lain yang lebih krusial,” ujar salah satu tokoh masyarakat yang enggan disebutkan namanya, Minggu (24/5/2026).
Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang, menjaga ketertiban, dan tidak ikut-ikutan menyebarkan konten yang belum jelas kebenarannya serta berpotensi memicu kepanikan.
Tanggapan Warga: Antara Cemas dan Skeptis
Di lapangan, tanggapan masyarakat terbelah. Sebagian masih merasa cemas, namun sebagian lainnya mulai menyadari adanya kejanggalan dalam pola penyebaran isu ini.
Salah satu warga Desa Alasrejo, Budi (35), mengaku awalnya takut, namun kini mulai skeptis. “Awalnya saya memang was-was lihat story WA teman-teman. Tapi kalau dipikir-pikir, kok bisa serentak banget ya? Rasanya aneh. Mungkin benar ini cuma cara buat alihkan perhatian dari kasus lain,” katanya.
Sementara itu, warga lainnya, Siti (42), memilih untuk bersikap hati-hati namun tidak panik. “Saya tidak percaya hantu, tapi saya percaya ada orang iseng atau punya maksud tertentu. Makanya saya pilih diam dan tidak ikut sebar hoaks,” tambahnya.
Imbauan Polisi: Lapor 110 Jika Meresahkan
Menyikapi berkembangnya isu ini, Polresta Banyuwangi melalui Kasi Humas, Iptu I Made Chandra, sebelumnya telah menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada laporan resmi terkait gangguan keamanan akibat “pocong”.
Polisi kembali mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi. Namun, jika memang terjadi tindakan nyata yang mengganggu ketertiban umum, menimbulkan kerugian materi, atau ada pihak yang sengaja meneror warga dengan kedok mistis, masyarakat diminta segera melapor.
“Bila memang terjadi gangguan nyata atau ada pihak yang memanfaatkan isu ini untuk meresahkan, segera lapor ke layanan darurat 110. Kami akan tindak sesuai hukum yang berlaku,” tegas Iptu I Made Chandra.
Hingga saat ini, identitas dalang di balik penyebaran massal isu “teror pocong” ini masih menjadi misteri. Masyarakat diharapkan tetap waspada terhadap kejahatan konvensional dan tidak termakan oleh narasi-narasi yang bertujuan memecah konsentrasi publik.







