Daerah  

Gumbregan, Tradisi Syukur Sedulur Sikep yang Merawat Harmoni Manusia, Alam, dan Hewan

aksesadim01
IMG 20260619 WA0027

Kampungberita.com/BOJONEGORO – Suasana khidmat sekaligus penuh kehangatan menyelimuti Dusun Jepang, Desa Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, saat masyarakat Sedulur Sikep kembali menggelar tradisi Gumbregan pada bulan Suro dalam penanggalan Jawa, Jumat (19/6/2026). Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini menjadi ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kesehatan, kesejahteraan, serta keberadaan hewan ternak yang selama ini menjadi penopang kehidupan masyarakat.

 

Bagi Sedulur Sikep, Gumbregan bukan sekadar seremoni adat. Tradisi tersebut mencerminkan nilai-nilai luhur tentang penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup, khususnya hewan ternak seperti sapi, kerbau, dan kambing yang memiliki peran penting dalam aktivitas pertanian dan kehidupan sehari-hari.

 

Penerus ajaran Samin Surosentiko, Bambang Sutrisno, mengatakan Gumbregan merupakan bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan sekaligus penghargaan kepada hewan ternak yang telah memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.

 

“Gumbregan adalah wujud rasa syukur kepada Tuhan karena hewan ternak telah membantu pekerjaan dan menjadi bagian dari kehidupan kami. Tradisi ini juga mengajarkan pentingnya kasih sayang serta penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup yang bersama-sama menjaga keseimbangan kehidupan,” ujarnya.

 

Menurut Bambang, penyelenggaraan Gumbregan tahun ini juga menjadi bagian dari komitmen masyarakat Sedulur Sikep dalam melestarikan budaya leluhur sekaligus memperkuat usulan agar tradisi tersebut ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB).

 

Prosesi diawali dengan gotong royong warga menyiapkan hidangan tradisional, seperti ketupat dan jadah ketan. Semangat kebersamaan tampak dalam setiap tahapan persiapan, mencerminkan nilai kekeluargaan yang masih terjaga kuat di lingkungan Sedulur Sikep.

 

Setelah seluruh sajian selesai dipersiapkan, masyarakat berkumpul mengikuti doa bersama yang dipimpin Mbah Salam. Doa dipanjatkan sebagai ungkapan syukur atas limpahan rezeki, kesehatan, dan keselamatan bagi seluruh warga beserta hewan ternak yang menjadi bagian dari kehidupan mereka.

 

Usai prosesi doa, ketupat dan berbagai hidangan disantap bersama keluarga sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur. Sebagian makanan juga diberikan kepada hewan ternak sebagai bentuk penghormatan dan kasih sayang atas jasa mereka dalam membantu aktivitas masyarakat.

 

Tradisi Gumbregan tahun ini turut dihadiri sejumlah tamu dari berbagai daerah, di antaranya pemerhati budaya Samin dari Yogyakarta, tim Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro, serta budayawan sekaligus pemerhati Samin, Adi Sutarto. Kehadiran mereka menjadi dukungan nyata terhadap upaya pelestarian budaya lokal yang terus dijaga oleh masyarakat Sedulur Sikep.

 

Di tengah derasnya arus modernisasi, Gumbregan tidak hanya menjadi penanda keberlanjutan tradisi leluhur, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran tentang pentingnya hidup selaras dengan alam. Nilai gotong royong, rasa syukur, kepedulian terhadap lingkungan, serta penghormatan kepada seluruh makhluk hidup yang terkandung dalam tradisi ini menjadi warisan budaya yang tetap relevan bagi kehidupan masa kini maupun generasi mendatang.

(Tim/red)