Kampungberita.com
BANYUWANGI – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi solusi gizi bagi pelajar, justru memicu kekecewaan mendalam di SMAN 1 Wongsorejo (SMANJO), Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi. Alih-alih mendapatkan asupan nutrisi seimbang, siswa baru hanya disuguhi menu minim gizi: tahu, oseng kentang, dan buah apel. Ironisnya, protein hewani sama sekali tidak dit
Keluhan ini dilontarkan secara terbuka oleh Nurali, orang tua wali murid yang juga merupakan anggota Komite Sekolah SMANJO, pada Selasa (14/7/2026). Ia menilai penyajian menu tersebut sangat jauh dari standar gizi yang dijanjikan pemerintah dan terkesan “asal-asalan”.
Kritik Pedas: Jangan Jadikan Perut Siswa Ladang Cuan
Nurali menyatakan kekecewaannya karena tidak adanya sumber protein utama seperti telur, ayam, ikan, atau daging. “Ini kan program Makan Bergizi. Kalau isinya cuma tahu dan kentang, di mana letak ‘bergizi’-nya? Protein hewani itu kunci pertumbuhan anak sekolah. Ini diduga kuat hanya formalitas atau bahkan penghematan biaya oleh pengelola,” tegas Nurali.
Keluhan senada juga disampaikan oleh sejumlah wali murid lain yang meminta identitasnya dirahasiakan. Mereka khawatir kualitas makanan yang buruk akan berdampak pada kesehatan dan konsentrasi belajar siswa.
“Masyarakat berharap MBG ini benar-benar untuk kesejahteraan siswa, jangan sampai dijadikan ajang cari cuan (keuntungan) oleh pemilik atau pengelola dapur MBG. Jika uangnya dipotong untuk keuntungan pribadi, ya hasilnya begini: makanannya tidak layak,” tambah Nurali dengan nada kritis.
Lokasi Dapur Dipertanyakan, SPPG Bungkam
Berdasarkan pantauan awak media, penyedia layanan pangan (SPPG) atau dapur umum yang melayani SMANJO berlokasi di Desa Sumber Kencono, Kecamatan Wongsorejo. Jarak dan lokasi ini sempat menjadi pertanyaan warga terkait kesegaran dan standar higienitas makanan saat didistribusikan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi dari pihak SPPG maupun pengelola program MBG terkait keluhan tersebut. Keheningan ini semakin memicu spekulasi di tengah masyarakat bahwa ada ketidaktransparanan dalam pengelolaan anggaran dan pemilihan menu.
Tuntutan Transparansi dan Evaluasi Segera
Komite Sekolah dan wali murid mendesak Dinas Pendidikan serta panitia pelaksana MBG tingkat kabupaten untuk segera turun tangan melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke dapur penyedia.
1. Evaluasi Menu: Pastikan setiap porsi mengandung karbohidrat, protein hewani/nabati, sayur, dan buah sesuai standar gizi nasional.
2. Audit Keuangan: Cek apakah ada pemotongan anggaran yang menyebabkan penurunan kualitas bahan baku.
3. Sanksi Tegas: Jika terbukti lalai atau sengaja mengurangi porsi demi keuntungan, pengelola harus diganti.
Program MBG adalah harapan bangsa, bukan proyek bisnis oknum. Jika terus dibiarkan “asal-asalan”, maka generasi muda Banyuwangi yang sedang tumbuh justru akan dikorbankan demi kantong segelintir pihak.
Oleh : Kurniadi







