Kolaborasi Pemberdayaan Masyarakat Dorong Lahirnya Inovasi Ekonomi Hijau di Bojonegoro

aksesadim01
IMG 20260702 WA0108

Kampungberita.com/BOJONEGORO – Sinergi antara Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, pemerintah desa, dunia usaha, dan masyarakat terus membuahkan hasil nyata dalam mendorong pembangunan berbasis pemberdayaan. Berbagai program kolaboratif tidak hanya mampu meningkatkan kesejahteraan warga, tetapi juga melahirkan inovasi yang menggabungkan aspek ekonomi, lingkungan, dan pelestarian budaya lokal.

 

Salah satu contoh keberhasilan tersebut terlihat di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem. Melalui pendampingan PT Pertamina EP Cepu (PEPC), Bank Sampah Mandiri Keluarga Harapan (BSMKH) berhasil mengembangkan Green House Anggur, sebuah kawasan budidaya sekaligus wisata edukasi petik anggur yang kini menjadi destinasi baru di Kabupaten Bojonegoro.

 

Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Desa Sendangharjo, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, serta PT Pertamina EP Cepu dalam mengoptimalkan pemanfaatan lahan pekarangan dan memperkuat pengelolaan lingkungan berbasis partisipasi masyarakat.

 

Ketua BSMKH, Mas Ujang, menjelaskan bahwa konsep Green House Anggur mengedepankan prinsip ekonomi sirkular. Sampah rumah tangga yang dikumpulkan warga diolah menjadi pupuk organik untuk menyuburkan tanaman anggur, sementara sebagian limbah lainnya dimanfaatkan sebagai energi terbarukan. Bahkan, melalui sistem bank sampah, masyarakat juga dapat memanfaatkan hasil pengelolaan sampah untuk membantu pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

 

Green House Anggur membudidayakan sejumlah varietas unggulan dari berbagai negara, di antaranya Everest dari Amerika Serikat, Ilaria dari Italia, Pottergistrum dari Austria, Malika, Cherny Crystal, dan Gosvi dari Rusia, serta Basanti dari India. Keberagaman varietas tersebut menjadikan lokasi ini tidak hanya menarik sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai pusat edukasi budidaya anggur bagi masyarakat dan petani.

 

Saat menghadiri panen raya sekaligus petik perdana anggur pada Rabu (1/7/2026), Ketua TP PKK Kabupaten Bojonegoro, Cantika Wahono, mengapresiasi keberhasilan kolaborasi yang mampu menghadirkan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara bersamaan.

 

Menurutnya, keberhasilan Green House Anggur membuktikan bahwa sinergi antara pemerintah desa, pemerintah kecamatan, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, dan PT Pertamina EP Cepu mampu melahirkan inovasi yang berdampak luas bagi masyarakat.

 

«”Hari ini kita menyaksikan panen anggur di Desa Sendangharjo. Ini menjadi contoh bagaimana kolaborasi dan pendampingan yang berkelanjutan mampu membawa BSMKH dikenal hingga tingkat internasional,” ujarnya.»

 

Cantika berharap keberhasilan tersebut dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Bojonegoro untuk mengembangkan program serupa, terutama dalam pengelolaan sampah, pemanfaatan lahan pekarangan, dan penguatan ekonomi masyarakat.

 

Keberhasilan pemberdayaan masyarakat di Bojonegoro juga tercermin melalui sektor ekonomi kreatif. Salah satunya ditunjukkan oleh Afida Batik, UMKM yang dirintis Nur Afida setelah mengikuti program pemberdayaan perempuan yang diinisiasi ExxonMobil pada 2015.

 

Berbekal pelatihan dan pendampingan, usaha batik tersebut berkembang menjadi salah satu pelaku industri kreatif yang konsisten mengangkat identitas budaya Bojonegoro melalui beragam motif khas daerah.

 

Nur Afida mengungkapkan bahwa perkembangan usahanya tidak lepas dari peningkatan keterampilan, perluasan jaringan pemasaran, serta aktivitasnya sebagai pengajar batik yang membuka peluang kolaborasi lebih luas.

 

Berbagai motif yang dihasilkan terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya Bojonegoro, seperti Kayangan Api, daun jati, hingga potensi sumber daya alam lainnya. Motif Kayangan Api menjadi produk unggulan yang paling diminati karena merepresentasikan salah satu ikon wisata Kabupaten Bojonegoro.

 

Meski permintaan batik mengalami peningkatan pada momen-momen tertentu, khususnya menjelang tahun ajaran baru, Afida Batik mampu mencatat omzet rata-rata berkisar antara Rp15 juta hingga Rp20 juta setiap bulan.

 

Keberhasilan Green House Anggur BSMKH dan Afida Batik menjadi bukti bahwa program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan secara berkelanjutan mampu menciptakan inovasi, memperkuat ekonomi kerakyatan, menjaga kelestarian lingkungan, sekaligus melestarikan budaya lokal.

 

Melalui kolaborasi yang terus diperkuat antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, Bojonegoro optimistis dapat mengembangkan lebih banyak potensi lokal yang berdaya saing, membuka lapangan usaha baru, serta mewujudkan pembangunan yang inklusif, mandiri, dan berkelanjutan.

(Red/tim)