Medhayoh IX Cengkir: Pemkab Bojonegoro Dorong Penguatan Irigasi untuk Pertanian dan Wisata Desa

aksesadim01
IMG 20260813 WA0087

Kampungberita.Com/BOJONEGORO — Pemerintah Kabupaten Bojonegoro kembali turun langsung menyerap aspirasi masyarakat melalui Dialog Interaktif Medhayoh Edisi IX yang digelar di Desa Cengkir, Kecamatan Kepohbaru, Rabu (12/8/2026).

 

Mengusung semangat “Tilik Dulur, Nyambung Roso, Monggo Nandur”, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi forum dialog antara pemerintah dan masyarakat. Rangkaian kunjungan juga diarahkan untuk melihat secara langsung potensi pertanian, infrastruktur pengairan, hingga peluang pengembangan wisata berbasis desa.

 

Bupati Bojonegoro Setyo Wahono bersama Wakil Bupati Nurul Azizah mengawali rangkaian kegiatan dengan mengunjungi Pondok Pesantren Darul Istiqomah Woro. Agenda kemudian dilanjutkan dengan panen tembakau bersama petani, peninjauan Embung Cengkir, serta melihat pengembangan greenhouse melon.

 

Pengairan Jadi Kunci Produktivitas Pertanian

 

Dalam kegiatan tersebut, sektor pertanian menjadi salah satu perhatian utama. Hal ini tidak terlepas dari kondisi masyarakat Kecamatan Kepohbaru yang sebagian besar menggantungkan perekonomian pada sektor pertanian, dengan komoditas seperti tembakau, padi dan hortikultura.

 

Bupati Setyo Wahono menegaskan, produktivitas pertanian tidak hanya ditentukan oleh kualitas lahan dan komoditas, tetapi juga sangat bergantung pada ketersediaan air.

 

“Mayoritas warga Kepohbaru bertani, dan komoditas utamanya adalah tembakau. Karena itu, ketersediaan air menjadi hal yang sangat krusial,” ujar Setyo Wahono.

 

Menurutnya, pemerintah desa dapat secara aktif mengusulkan pembangunan embung apabila kondisi wilayah memang membutuhkan sarana penampungan air. Setiap usulan nantinya akan melalui proses verifikasi dan kajian kelayakan.

 

“Pemerintah desa tidak perlu ragu mengusulkan pembangunan embung sesuai kebutuhan wilayah. Nantinya akan kita verifikasi dan kaji kelayakannya,” tegasnya.

 

Embung Cengkir Jadi Perhatian

 

Kondisi Embung Cengkir turut menjadi salah satu pembahasan penting dalam Medhayoh IX. Embung yang selama ini berperan dalam mendukung kebutuhan air pertanian disebut mengalami pendangkalan sehingga kapasitas tampungnya perlu dikembalikan.

 

Pemkab Bojonegoro mendorong agar normalisasi Embung Cengkir dapat dilakukan pada tahun ini melalui koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).

 

Selain normalisasi, sejumlah solusi teknis juga akan dikaji oleh perangkat daerah terkait. Upaya tersebut diharapkan mampu menjaga kondisi tanggul sekaligus meningkatkan efektivitas embung dalam menampung air, khususnya saat memasuki musim kemarau.

 

Penguatan infrastruktur pengairan dinilai memiliki dampak yang lebih luas. Selain menjaga kesinambungan produksi pertanian, keberadaan infrastruktur air dapat menjadi bagian dari upaya mengembangkan potensi wisata lokal yang bertumpu pada karakter dan keunggulan desa.

 

Aspirasi Warga Tak Hanya Soal Pertanian

 

Dialog Medhayoh kemudian berkembang menjadi ruang penyampaian berbagai aspirasi masyarakat. Warga, pemerintah desa, kelompok tani dan tokoh masyarakat menyampaikan sejumlah persoalan serta usulan yang berkaitan dengan kebutuhan pembangunan di wilayahnya.

 

Aspirasi yang disampaikan antara lain terkait penguatan UMKM, bantuan peternakan, Program GAYATRI atau Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri, hingga sektor pendidikan.

 

Bupati Setyo Wahono menekankan pentingnya pengawasan terhadap setiap program bantuan pemerintah. Menurutnya, pengawasan diperlukan agar program yang telah digulirkan benar-benar memberikan manfaat kepada masyarakat yang menjadi sasaran.

 

“Semua program harus dikawal, mulai dari bantuan ternak hingga Program Gayatri. Begitu pula sektor pendidikan, program satu desa 10 sarjana terus kita jalankan dan usulan penambahan kuota akan dikaji sesuai kemampuan anggaran daerah,” katanya.

 

Medhayoh sebagai Jembatan Pemerintah dan Masyarakat

 

Setyo Wahono menegaskan, Medhayoh bukan sekadar agenda kunjungan kerja pemerintah daerah. Kegiatan tersebut menjadi salah satu cara untuk memperpendek jarak antara pemerintah dengan masyarakat sekaligus memperoleh gambaran nyata mengenai persoalan yang terjadi di lapangan.

 

Melalui dialog secara langsung, pemerintah dapat mendengar masukan, saran dan keluhan masyarakat untuk kemudian menjadi bahan dalam menentukan langkah serta kebijakan pembangunan.

 

“Saya ingin mendengar langsung masukan, saran, maupun keluhan dari panjenengan. Ini menjadi bahan bagi kami untuk menghadirkan solusi konkret yang sesuai dengan regulasi,” pungkasnya.

 

Medhayoh Edisi IX di Desa Cengkir pada akhirnya menegaskan bahwa pembangunan desa tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fisik. Penguatan sektor pertanian, ketersediaan air, pemberdayaan ekonomi masyarakat, pendidikan serta pengembangan potensi wisata perlu berjalan secara beriringan.

 

Semangat “Tilik Dulur, Nyambung Roso, Monggo Nandur” pun menjadi pesan utama bahwa pembangunan Bojonegoro diarahkan untuk tumbuh dari kedekatan pemerintah dengan masyarakat, penggalian potensi lokal, serta penguatan sektor produktif yang mampu menopang perekonomian warga secara berkelanjutan.

(Red/prok)