Kampungberita.com JEMBER — Ruang rapat yang semestinya menjadi arena keseriusan membahas kepentingan rakyat justru berubah menjadi panggung kontroversi. Sorotan publik tertuju pada Anggota Komisi D DPRD Jember dari Fraksi Gerindra, Achmad Syahri Assidiqi, setelah video dirinya diduga bermain gim sambil merokok saat rapat resmi viral di media sosial dan menuai gelombang kritik tajam.
Peristiwa yang terjadi dalam forum rapat dengar pendapat bersama sejumlah instansi strategis, termasuk sektor kesehatan dan pelayanan publik itu, memantik kekecewaan masyarakat. Banyak pihak menilai tindakan tersebut mencederai etika politik sekaligus menunjukkan sikap yang tidak mencerminkan tanggung jawab seorang wakil rakyat di tengah forum resmi kenegaraan.
Video yang tersebar luas memperlihatkan legislator muda itu tampak lebih fokus pada layar telepon genggamnya, diduga memainkan gim, sembari merokok saat pembahasan agenda berlangsung. Publik menilai tindakan itu bukan sekadar kelalaian pribadi, melainkan simbol lunturnya penghormatan terhadap marwah lembaga legislatif.
Desakan publik akhirnya memaksa partai mengambil langkah cepat. Achmad Syahri dipanggil menjalani sidang etik di kantor DPP Partai Gerindra, Jakarta Selatan. Usai pemeriksaan, ia menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada masyarakat Jember, pimpinan partai, serta seluruh pihak yang merasa dirugikan atas tindakannya.
“Saya menyesal dan memohon maaf. Ini murni kekhilafan dan menjadi pelajaran besar bagi saya,” ujarnya usai menjalani sidang etik.
Ia juga menegaskan kesiapannya menerima konsekuensi politik maupun sanksi internal partai sebagai bentuk pertanggungjawaban moral atas tindakan yang dinilai mencoreng citra institusi.
Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa jabatan publik bukan sekadar simbol kekuasaan, melainkan amanah yang menuntut kedisiplinan, integritas, dan keteladanan. Di tengah krisis kepercayaan masyarakat terhadap elite politik, tindakan sekecil apa pun yang menunjukkan pengabaian terhadap tugas akan selalu menjadi sorotan tajam.
Kini, publik menunggu bukan sekadar permintaan maaf, melainkan pembuktian nyata bahwa insiden ini benar-benar menjadi titik balik bagi perbaikan etika dan keseriusan dalam mengemban mandat rakyat.
Tim/red







