Sedekah Bumi Desa Kesongo, Wujud Syukur dan Pelestarian Budaya di Tengah Kemajuan Zaman

aksesadim01
IMG 20260530 WA0084

Kampungberita//BOJONEGORO – Tradisi Sedekah Bumi yang telah diwariskan secara turun-temurun kembali digelar masyarakat Desa Kesongo, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, Sabtu (30/5/2026). Kegiatan yang menjadi simbol rasa syukur atas hasil panen dan keberkahan alam tersebut berlangsung meriah serta dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah.

 

Kehadiran Wakil Bupati disambut hangat oleh masyarakat. Bagi warga Desa Kesongo, Sedekah Bumi bukan sekadar agenda tahunan, melainkan warisan leluhur yang terus dijaga sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu desa sekaligus ungkapan syukur atas rezeki yang diperoleh dari sektor pertanian.

 

Secara historis, tradisi Sedekah Bumi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat agraris Desa Kesongo sejak lama. Tradisi ini lahir dari kebiasaan warga yang menggantungkan hidup pada hasil pertanian dan memegang nilai pentingnya menjaga harmoni antara manusia, alam, serta kehidupan spiritual.

 

Setiap tahun, masyarakat berkumpul membawa hasil bumi, menyelenggarakan doa bersama, serta menyajikan berbagai makanan tradisional sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur atas hasil panen yang diperoleh.

 

Kepala Desa Kesongo, Kusnadi, dalam sambutannya menegaskan bahwa Sedekah Bumi merupakan warisan budaya yang harus terus dipertahankan. Menurutnya, tradisi tersebut menjadi pengingat akan pentingnya kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan kepada leluhur yang telah membuka serta membangun desa.

 

“Tradisi ini bukan hanya tentang rasa syukur, tetapi juga menjadi sarana mempererat persaudaraan dan menjaga nilai-nilai budaya yang telah diwariskan oleh para pendahulu,” ujarnya.

 

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, mengapresiasi komitmen masyarakat Desa Kesongo yang tetap menjaga budaya lokal di tengah arus perkembangan zaman. Menurutnya, Sedekah Bumi memiliki makna strategis karena mampu memperkuat identitas budaya sekaligus mempererat persatuan masyarakat.

 

“Tradisi seperti ini harus terus dilestarikan. Kita harus bangga dengan budaya sendiri, karena budaya adalah identitas sekaligus kekuatan masyarakat. Sedekah Bumi menjadi pengingat bahwa hasil yang kita nikmati hari ini tidak lepas dari perjuangan para leluhur dan kerja keras masyarakat,” tuturnya.

 

Selain memberikan apresiasi terhadap pelestarian budaya, Wakil Bupati juga memanfaatkan momentum tersebut untuk menyosialisasikan program prioritas Pemerintah Kabupaten Bojonegoro berupa layanan cek kesehatan gratis bagi seluruh kelompok usia.

 

Kepala Dinas Kesehatan Bojonegoro, Ninik Susmiati, menjelaskan bahwa masyarakat dapat memanfaatkan layanan tersebut di seluruh puskesmas hanya dengan membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP).

 

“Jangan menunggu sakit untuk memeriksakan kesehatan. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro telah menyediakan layanan cek kesehatan gratis di masing-masing puskesmas agar masyarakat tetap sehat,” jelasnya.

 

Layanan tersebut meliputi pemeriksaan tekanan darah, gula darah, kolesterol, asam urat, kesehatan jantung, hingga deteksi dini berbagai risiko penyakit lainnya.

 

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bojonegoro, Zaenal Fanani, turut menyampaikan sosialisasi terkait program peningkatan produktivitas pertanian melalui pengembangan benih padi unggul Gamagora.

 

Menurut Zaenal, Desa Kesongo direncanakan menjadi lokasi percontohan (pilot project) pengembangan benih padi Gamagora yang diharapkan mampu meningkatkan hasil panen petani.

 

“Desa Kesongo nanti akan kami jadikan pilot project percontohan benih padi Gamagora. Harapannya, hasil panen yang sebelumnya sekitar enam ton per hektare dapat meningkat menjadi delapan ton per hektare,” ungkapnya.

 

Rangkaian kegiatan Sedekah Bumi ditutup dengan kirab gunungan hasil bumi dari rumah Kepala Desa menuju Punden Agung. Prosesi berlangsung khidmat sekaligus semarak, diikuti antusiasme masyarakat yang memadati sepanjang rute kirab.

 

Tradisi yang memadukan nilai spiritual, budaya, dan kebersamaan tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan desa tidak hanya berorientasi pada kemajuan fisik semata, tetapi juga pada upaya menjaga dan melestarikan jati diri budaya masyarakat sebagai warisan yang tak ternilai

Red/tim**