Mahasiswa KKNTK 02 Universitas Bojonegoro Petakan Potensi dan Tantangan Desa Tondomulo untuk Program Pemberdayaan 2026

IMG 20260604 WA0036

Kampungberita.comBOJONEGORO – Mahasiswa Kelompok Kuliah Kerja Nyata Tematik Kolaboratif (KKNTK) 02 Universitas Bojonegoro melaksanakan survei awal di Desa Tondomulo, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, Jumat (29/5/2026). Kegiatan tersebut menjadi langkah awal dalam menyusun program kerja yang berbasis kebutuhan masyarakat serta potensi lokal desa.

 

Sebanyak 14 mahasiswa terlibat dalam kegiatan yang diawali dengan kunjungan ke Balai Desa Tondomulo. Dalam kesempatan itu, mahasiswa melakukan dialog dan penggalian data bersama perangkat desa yang diwakili oleh Carik Desa guna memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi wilayah, sosial kemasyarakatan, ekonomi, pendidikan, budaya, hingga sumber daya alam yang tersedia.

 

Berdasarkan hasil pemetaan, Desa Tondomulo terdiri atas tujuh dusun, yakni Dusun Tondomulo, Jetis, Jantok, Kedungbulus, Kedunglele, Sumengko, dan Bunten. Wilayah tersebut memiliki 30 RT dan 11 RW dengan mayoritas penduduk menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan peternakan.

 

Komoditas unggulan desa meliputi jagung, padi, dan tembakau yang selama ini menjadi penopang utama perekonomian masyarakat. Selain itu, desa juga memiliki sejumlah potensi yang dinilai dapat dikembangkan lebih lanjut, seperti kerajinan anyaman pandan, wisata Embung Centong, serta tradisi budaya Nyadran Sauran yang telah mendapatkan pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda.

 

Tidak hanya memetakan potensi, tim KKNTK 02 juga mengidentifikasi sejumlah persoalan yang masih dihadapi masyarakat. Beberapa di antaranya adalah kekeringan yang kerap terjadi saat musim kemarau, tingginya angka kemiskinan, terbatasnya akses pemasaran produk kerajinan lokal, serta masih ditemukannya kasus pernikahan usia dini.

 

Mahasiswa juga melihat peluang pengembangan ekonomi baru melalui pemanfaatan limbah pertanian, khususnya bonggol dan klobot jagung, yang hingga kini belum dimanfaatkan secara optimal dan masih memiliki nilai tambah ekonomi yang cukup besar apabila diolah menjadi produk kreatif maupun bahan pendukung usaha masyarakat.

 

Hasil survei tersebut selanjutnya akan menjadi bahan kajian dan diskusi bersama Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) untuk merumuskan program kerja selama pelaksanaan KKN. Sejumlah agenda yang mulai dirancang antara lain pelatihan pembuatan pupuk organik berbahan kotoran ternak, pengolahan limbah jagung menjadi produk bernilai ekonomi, pendampingan pelaku UMKM, serta promosi potensi desa melalui berbagai media publikasi.

 

Koordinator KKNTK 02 menyampaikan bahwa pendekatan berbasis kebutuhan masyarakat menjadi prinsip utama dalam penyusunan program kerja. Dengan demikian, setiap kegiatan yang dilaksanakan diharapkan mampu memberikan manfaat yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat desa.

 

Melalui survei awal tersebut, mahasiswa berharap dapat membangun sinergi yang kuat antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat dalam mendorong pembangunan desa yang lebih mandiri, produktif, dan berdaya saing.

 

Kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat tidak hanya menjadi bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, tetapi juga menjadi wadah kolaborasi untuk menggali potensi lokal sekaligus menghadirkan solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi desa.

(Red/tim)