Kampungberita.com SURAKARTA – Permasalahan pengelolaan limbah padat di Surakarta kian mendesak, seiring kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo yang telah mengalami kelebihan kapasitas (overload). Situasi ini menuntut langkah konkret dan inovatif guna mencegah dampak lingkungan yang lebih luas.
Data riset lingkungan menunjukkan, komposisi sampah harian di Surakarta didominasi sampah organik sebesar 60–70 persen, sementara sisanya merupakan sampah anorganik seperti plastik dan kertas. Volume sampah yang terus meningkat setiap hari memerlukan penanganan terpadu agar tidak sekadar menumpuk dan menjadi sumber pencemaran.
Menjawab tantangan tersebut, Kodim 0735/Surakarta hadir sebagai katalisator melalui strategi integratif pengelolaan sampah, mulai dari edukasi di tingkat rumah tangga hingga pengolahan di hilir secara inovatif.
Keterlibatan TNI ini merupakan bagian dari tugas Operasi Militer Selain Perang (OMSP), sekaligus wujud kemanunggalan TNI dengan rakyat dalam membantu mengatasi persoalan lingkungan dan menjaga kesehatan masyarakat.
Langkah ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan bahwa pengelolaan sampah bukan sekadar isu lingkungan, tetapi juga bagian dari ketahanan nasional. Pemerintah pusat sendiri terus mendorong percepatan sistem pengelolaan sampah yang komprehensif guna mengantisipasi dampak jangka panjang terhadap ekosistem perkotaan.
Komandan Kodim 0735/Surakarta, Letkol Inf Arief Handoko Usman, menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai upaya nyata melalui sosialisasi dan pendampingan kepada masyarakat. Salah satunya dilakukan oleh personel Kodim, Pelda Rudi, yang aktif memberikan edukasi terkait pengelolaan sampah yang tepat.
“Kegiatan sosialisasi ini menyasar berbagai lapisan masyarakat, mulai dari tingkat RT/RW hingga komunitas lingkungan, dengan pendekatan komunikatif dan partisipatif,” ujarnya, Kamis (23/4/2026).
Ia menekankan bahwa penanganan sampah harus dimulai dari hulu, yakni dari sumbernya. Masyarakat didorong untuk melakukan pemilahan sampah menjadi dua kategori utama, organik dan anorganik, guna meningkatkan efektivitas pengolahan serta mengurangi beban TPA.
Untuk sampah anorganik seperti plastik, botol, dan kertas, masyarakat diarahkan memanfaatkan sistem bank sampah. Melalui mekanisme ini, sampah bernilai ekonomis dapat ditabung, sehingga selain mengurangi limbah, juga memberikan manfaat finansial serta mendukung ekonomi sirkular berbasis masyarakat.
Sementara itu, sampah organik diolah melalui fasilitas TPS3R Mojosongo. Di lokasi tersebut, limbah organik diubah menjadi produk bernilai guna seperti kompos, maggot (larva Black Soldier Fly), kasgot, hingga pupuk cair organik (PCO). Proses ini dinilai efektif dalam menekan volume sampah sekaligus membuka peluang ekonomi baru.
Lebih lanjut, Dandim menegaskan bahwa penanganan persoalan sampah membutuhkan kolaborasi lintas sektoral yang kuat. Pendekatan dari hulu ke hilir yang terintegrasi diyakini mampu mengurai persoalan sampah secara bertahap.
“Inisiatif ini tidak hanya mendukung program pemerintah, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat bahwa sampah dapat diolah menjadi berkah. Kunci utamanya adalah kesadaran kolektif untuk memilah dan mengelola sampah dengan benar,” pungkasnya.
Dengan langkah tersebut, diharapkan Surakarta dapat mewujudkan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan di masa mendatang.







