Kampungberita.com
BANYUWANGI – Tragedi kemanusiaan kembali terjadi di jantung ekonomi kerakyatan, Pasar Wongsorejo. Pada Jumat sore (17/7/2026), sekitar pukul 16.00 WIB, Harjono (55), seorang pedagang nasi goreng asal Desa Wongsorejo, dibuat terpukul hingga ke dasar hati. Saat hendak membuka lapaknya, ia terkejut menemukan kompor gas dan terpal peneduhnya raib dari lokasi jualan. Yang tersisa hanyalah gerobak kosong yang tak bisa digunakan untuk berjualan.
Kehilangan alat vital ini membuat ratusan porsi nasi siap goreng terpaksa tidak bisa dijual, membawa kerugian material mencapai Rp1 juta. Bagi Harjono, angka itu bukan sekadar uang, melainkan nyawa untuk menyekolahkan anak-anaknya dan menghidupi keluarganya sehari-hari.
Kritik Pedas: Pasar Tanpa Penjaga, Tapi Pungutan Lancar Jaya?
Yang membuat warga dan pedagang lainnya geram adalah fakta mencengangkan di balik kejadian ini: Pasar Wongsorejo diketahui tidak memiliki petugas penjaga atau security yang standby, namun setiap hari pengelola pasar dengan lancar menarik retribusi dari para pedagang.
“Ini namanya memeras rakyat kecil. Uang retribusi kami bayar rutin tiap hari, tapi apa imbal baliknya? Keamanan nol! Alat masak saya hilang di dalam pasar, di bawah ‘pengawasan’ mereka, tapi tidak ada satu pun pihak yang bertanggung jawab,” ujar Harjono dengan nada getir sambil menahan air mata.
Ketidakadaan penjaga pasar menciptakan ruang gerak bebas bagi oknum-oknum tidak bertanggung jawab. Pedagang merasa dibiarkan sendirian menghadapi risiko kriminalitas, sementara pengelola pasar seolah tutup mata dan hanya fokus pada pundi-pundi pendapatan daerah tanpa memberikan layanan proteksi minimal.
Pengelola Pasar Bungkam, Pedagang Merana
Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi maupun tanggapan dari pihak pengelola Pasar Wongsorejo maupun instansi terkait mengenai hilangnya aset milik Pak Harjono. Sikap diam ini semakin memperparah luka hati para pedagang kecil yang merasa tidak dihargai jerih payahnya.
Di mana empati pengelola pasar? Di mana tanggung jawab moral atas dana retribusi yang telah dikumpulkan? Jika pasar dibiarkan menjadi kawasan rawan kriminal tanpa pengamanan yang memadai, maka fungsi pasar sebagai pusat perekonomian rakyat akan lumpuh.
Tuntutan Keadilan dan Perbaikan Sistem
Warga dan komunitas pedagang menuntut:
1. Tanggung Jawab Pengelola: Pihak pengelola harus segera turun tangan membantu pencarian dan memberikan kompensasi atau keringanan retribusi bagi korban.
2. Penambahan Security: Pasar wajib memiliki petugas keamanan yang berjaga shift, terutama di jam-jam rawan seperti sore dan malam hari.
3. Transparansi Dana Retribusi: Jelaskan kepada publik, untuk apa uang retribusi digunakan jika keamanan dasar saja tidak terjamin?
Kasus Pak Harjono adalah peringatan keras. Jangan biarkan pasar menjadi hutan beton yang memakan habis harapan pedagang kecil. Kembalikan rasa aman, atau hentikan penarikan retribusi yang tidak adil!
Oleh : Kurniadi







