Kampungberita.com
BANYUWANGI – Belum genap beberapa bulan sejak pembangunannya, jalan paving block di Dusun Pallima, Desa Alasbuluh, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, sudah tampak memprihatinkan. Permukaan jalan yang seharusnya menjadi aset berharga bagi konektivitas warga kawasan hutan tersebut kini berlubang dan retak. Ironisnya, kerusakan ini bukan disebabkan oleh faktor alam semata, melainkan diduga akibat ulah segelintir oknum yang mengoperasikan kendaraan truk bermuatan berlebih (overload) tanpa ada upaya pencegahan dari lingkungan sekitar.
Kondisi ini disampaikan oleh sejumlah pengguna jalan yang merasa prihatin sekaligus kecewa. Mereka menilai, kerusakan infrastruktur yang dibiayai menggunakan Dana Desa ini adalah bukti nyata bahwa kesadaran warga untuk memelihara aset bersama masih sangat rendah.
Kritik Pedas: Warga Jadi Penonton Saat Aset Desa Dirusak
“Paving ini dibangun pakai uang rakyat, uang desa. Tapi kok rasanya warga cuma bisa menonton saat jalan itu dihancurkan oleh truk-truk besar? Seharusnya ada rasa memiliki. Jika ada truk overload lewat, kenapa tidak ditegur atau dilaporkan? Jangan nanti rusak semua baru ribut minta perbaikan,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya, Kamis (16/7/2026).
Kerusakan di kawasan hutan Dusun Pallima ini menjadi sorotan karena jalur tersebut merupakan akses vital. Namun, ketiadaan pengawasan partisipatif dari warga membuat para pengemudi truk seenaknya melintas dengan muatan di atas tonase yang diizinkan. Hal ini menunjukkan kegagalan sinergi antara Pemerintah Desa (Pemdes) dan masyarakat. Pemdes mungkin membangun, tetapi jika warga tidak mau menjaga, maka hasilnya akan sia-sia.
Pemdes Alasbuluh Bungkam, Warga Tunggu Tanggung Jawab
Hingga berita ini diturunkan, Kepala Desa Alasbuluh, Abu Sholeh Said, belum memberikan konfirmasi resmi terkait banyaknya titik kerusakan pada program paving blok yang baru saja dilaksanakan. Keheningan pihak pemdes semakin memicu pertanyaan: apakah ada kelalaian dalam pengawasan kualitas material saat pembangunan, ataukah memang beban lalu lintas yang tidak terkendali menjadi penyebab utamanya?
Warga mendesak agar Pemdes Alasbuluh segera turun tangan, tidak hanya untuk memperbaiki kerusakan, tetapi juga untuk menegakkan aturan lalu lintas di tingkat desa. Selain itu, warga juga diminta untuk tidak lagi bersikap apatis.
Sinergi Bukan Sekadar Kata-Kata
Kasus di Dusun Pallima ini menjadi pelajaran pahit. Dana Desa bukanlah sumber daya yang tak terbatas. Setiap rupiah yang keluar untuk pembangunan harus dijaga bersama. Jika warga terus membiarkan truk overload merusak jalan tanpa aksi nyata, maka jangan harap infrastruktur di Desa Alasbuluh akan bertahan lama.
Warga Alasbuluh dituntut untuk bangkit dari sikap pasif. Lindungi aset desamu, tegur pelanggar, dan bersinergilah dengan Pemdes. Jangan biarkan keringat dan anggaran desa hancur hanya karena ketidakpedulian kita sendiri.
Oleh : Kurniadi







