Kampungberita.com
BANYUWANGI – Langit Wongsorejo yang biasanya menjanjikan panen raya, kini justru membawa kabar duka bagi para petani cabai rawit. Kawasan utara Banyuwangi, yang dikenal sebagai salah satu pusat produksi cabai terbesar, sedang dilanda “teror senyap” bernama Penyakit Bulai (virus gemini). Serangan hama ini tidak hanya merontokkan daun, tetapi juga meruntuhkan sendi-sendi kehidupan ekonomi ribuan keluarga petani.
Hamparan hijau yang menjadi simbol harapan telah berganti menjadi warna kuning pucat nan menyakitkan. Bagi warga setempat, warna kuning di musim ini bukanlah tanda kemakmuran, melainkan bendera kedukaan yang berkibar di atas tanah kering.
Modal Hangus, Harapan Pupus
Serangan virus ini datang tanpa peringatan, mirip pencuri di malam hari. Daun-daun muda mengerut, kerdil, dan kehilangan klorofil hingga memutih kekuningan. Saat daun memucat, kemampuan pohon untuk berbuah pun lumpuh total.
Bagi petani Wongsorejo, cabai bukan sekadar komoditas, melainkan taruhan hidup. Di tengah himpitan biaya produksi yang melonjak drastis—mulai dari pupuk hingga obat-obatan—mereka menggantungkan nasib anak-anak dan cicilan bank pada tegaknya batang cabai tersebut.
“Bukan lagi rugi, ini kiamat kecil bagi dapur kami,” bisik seorang petani paruh baya dengan tatapan kosong sambil mencabut paksa tanaman cabai yang sudah mati suri. Tangannya yang kasar gemetar menahan pilu. “Modal jutaan rupiah kami pinjam dari sana-sini. Sekarang, yang tersisa hanya hamparan daun kuning tak berharga yang tak bisa dijual.”
Kutu Kebul vs Ketahanan Pestisida
Para ahli agronomi menduga ketidakstabilan cuaca menjadi pemicu ledakan populasi Bemisia tabaci atau kutu kebul, vektor utama penyebar virus gemini. Hama mikroskopis ini menyebar masif dari satu lahan ke lahan lain. Ironisnya, upaya penyemprotan pestisida intensif siang dan malam seolah sia-sia. Kutu kebul terbukti semakin kebal, sementara tabungan petani terus terkuras habis untuk membeli bahan kimia yang tak lagi mempan.
Jeritan Sunyi Menunggu Uluran Tangan
Wongsorejo kini dalam keadaan berduka kolektif. Di tengah keheningan ladang yang sekarat, para petani hanya bisa menengadah ke langit. Mereka berharap ada keajaiban, atau setidaknya respons cepat dan uluran tangan nyata dari pemerintah daerah serta dinas terkait sebelum kebangkrutan massal terjadi.
Jika tidak ada intervensi teknis dan bantuan modal segera, dikhawatirkan struktur ekonomi pedesaan di Bumi Blambangan ini akan runtuh bersamaan dengan layunya terakhir helai daun cabai di Wongsorejo.







