INSPIRA RISBO Dorong Bojonegoro Bangun Kebijakan Berbasis Riset dan Kolaborasi

aksesadim01
P6vnyJilS20WfKKP

Kampungberita.com/BOJONEGORO – Pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur. Penguatan sumber daya manusia (SDM), budaya riset, inovasi, serta kolaborasi lintas sektor menjadi bagian penting untuk memastikan setiap kebijakan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

 

Gagasan tersebut mengemuka dalam talkshow radio Malowopati FM bertajuk “Budaya Riset, Inovasi, dan Kolaborasi dalam Mendukung Pembangunan Kabupaten Bojonegoro”, Senin (10/8/2026).

 

Talkshow tersebut menghadirkan tiga akademisi dari Inspirasi Akademisi dan Periset Bojonegoro (INSPIRA RISBO), yakni Pembina INSPIRA RISBO Assoc. Prof. Dr. Sri Budi Cantika Yuli, M.M., Pengarah INSPIRA RISBO Dr. Ifa Khoiria Ningrum, M.M., serta Ketua Umum INSPIRA RISBO Dr. Ima Isnaini Taufiqur Rohmah, M.Pd. Acara dipandu host Iwan Siswoyo.

 

Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-1 INSPIRA RISBO, yang sejak awal dibentuk sebagai ruang bertemunya para akademisi dan praktisi pendidikan tinggi untuk memperkuat kontribusi keilmuan bagi pembangunan Bojonegoro.

 

Ketua Umum INSPIRA RISBO, Ima Isnaini Taufiqur Rohmah, mengatakan komunitas tersebut lahir dari keinginan para akademisi dan praktisi perguruan tinggi swasta di Bojonegoro untuk tidak berhenti pada aktivitas akademik, tetapi ikut memberikan kontribusi yang lebih konkret bagi masyarakat dan pemerintah daerah.

 

Menurutnya, INSPIRA RISBO menjadi wadah untuk mempertemukan berbagai potensi akademisi dari beragam disiplin ilmu.

 

“Saat ini sudah ada 75 anggota, tidak hanya dosen tetapi juga guru hingga fresh graduate dari berbagai disiplin ilmu. Bojonegoro memiliki potensi anak-anak hebat yang perlu diberi ruang. Human capital merupakan fondasi dasar untuk membangun sebuah daerah,” ujarnya.

 

Memasuki tahun kedua kiprahnya, INSPIRA RISBO menyiapkan sejumlah agenda strategis. Di antaranya pembentukan Pojok Data Inspira, penguatan program pemberdayaan masyarakat, serta peningkatan kontribusi terhadap program prioritas Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.

 

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk membantu menjawab sejumlah persoalan strategis daerah, mulai dari peningkatan angka partisipasi sekolah, pencegahan pernikahan usia dini, peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), hingga berbagai isu pembangunan lainnya.

 

Riset Harus Menjadi Budaya Masyarakat

 

Pembina INSPIRA RISBO, Sri Budi Cantika Yuli atau yang akrab disapa Bunda Cantika, menilai pembangunan daerah harus dipahami secara lebih luas. Keberhasilan pembangunan tidak semata-mata dilihat dari banyaknya pembangunan fisik, tetapi juga dari kualitas manusia dan cara berpikir masyarakat.

 

Ia mendorong agar budaya riset tidak hanya menjadi aktivitas akademisi di lingkungan perguruan tinggi, tetapi berkembang menjadi pola pikir dalam kehidupan masyarakat.

 

Menurutnya, pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan publik harus didasarkan pada data, kajian, kesimpulan, serta evaluasi yang terukur.

 

“Kultur riset bukan hanya milik dosen, melainkan pola pikir masyarakat. Misalnya dalam penanganan stunting. Sebelum mengambil keputusan perlu ada data dasar, kajian, kesimpulan, hingga evaluasi. Jika masyarakat terbiasa dengan pola pikir berbasis riset, perumusan dan pelaksanaan kebijakan daerah akan jauh lebih efisien,” jelasnya.

 

Bunda Cantika juga melihat Bojonegoro memiliki modal intelektual yang besar. Salah satunya ditandai dengan keberadaan anggota INSPIRA RISBO yang tengah menempuh pendidikan doktoral.

 

Menurut dia, inovasi tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk teknologi canggih. Sebuah perubahan sederhana yang mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat juga merupakan bentuk inovasi.

 

Karena itu, budaya knowledge sharing atau berbagi pengetahuan dinilai penting untuk membangun ekosistem akademik yang produktif sekaligus menghasilkan karya dan publikasi ilmiah yang memiliki dampak langsung bagi masyarakat.

 

Hexa Helix Percepat Penyelesaian Persoalan Daerah

 

Cantika menegaskan pembangunan daerah membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri, demikian pula akademisi, masyarakat, dunia usaha, maupun media.

 

Konsep hexa helix governance, menurutnya, menjadi salah satu pendekatan yang relevan untuk memperkuat sinergi tersebut.

 

“Tidak ada sebuah lembaga yang bisa berdiri sendiri. Pemerintah membutuhkan akademisi, akademisi membutuhkan masyarakat sebagai laboratorium sosial, dan dunia usaha membutuhkan hasil riset. Juga peran media membantu menyebarluaskan informasi dan kolaborasi inilah yang mempercepat pembangunan di Bojonegoro,” tandasnya.

 

Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan mampu menciptakan siklus pembangunan yang lebih kuat, yakni persoalan masyarakat menjadi bahan kajian, hasil penelitian menjadi rekomendasi, kemudian rekomendasi diterjemahkan menjadi kebijakan atau program yang dapat dievaluasi berdasarkan data.

 

Satukan Akademisi Lintas Disiplin

 

Pengarah INSPIRA RISBO, Ifa Khoiria Ningrum, menambahkan bahwa salah satu kekuatan komunitas tersebut adalah keberagaman latar belakang keilmuan anggotanya.

 

Akademisi dari bidang pertanian, ekonomi, pendidikan, teknik, dan berbagai disiplin ilmu lainnya dipertemukan dalam satu wadah untuk membangun kerja sama yang saling melengkapi.

 

“Ruh dari akademisi adalah Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu penelitian, pengabdian, dan pengajaran. Di INSPIRA RISBO, kami menyatukan semangat tersebut dengan mengedepankan kolaborasi lintas disiplin ilmu untuk memberi kontribusi positif bagi pembangunan Kabupaten Bojonegoro,” pungkasnya.

 

Dengan semakin kuatnya jejaring akademisi, riset, pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan media, INSPIRA RISBO diharapkan dapat menjadi salah satu penggerak ekosistem pengetahuan di Bojonegoro.

 

Bukan sekadar menghasilkan penelitian dan publikasi, tetapi mendorong agar pengetahuan tersebut hadir dalam bentuk solusi yang dapat dirasakan masyarakat serta mendukung lahirnya kebijakan pembangunan yang lebih tepat sasaran, terukur, dan berkelanjutan.

(Red/Com)