Waspada! Gelombang Tinggi Capai 6 Meter di Perairan Selatan Bali, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Pelayaran 28 Juni – 1 Juli 2026

kampungberita8
IMG 20260628 WA0011
Kampungberita.com
BANYUWANGI – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah III mengeluarkan peringatan dini terkait kondisi cuaca ekstrem di perairan Bali. Masyarakat yang beraktivitas di laut atau berencana menyeberang antar-pulau diminta untuk meningkatkan kewaspadaan seiring potensi peningkatan kecepatan angin dan tinggi gelombang signifikan dalam beberapa hari ke depan, mulai 28 Juni hingga 1 Juli 2026.
Berdasarkan analisis sinoptik terkini, pola angin permukaan di Perairan Utara dan Selatan Bali umumnya bertiup dari arah Timur hingga Selatan dengan kecepatan bervariasi antara 4 – 30 knot. Namun, perhatian khusus diberikan pada Perairan Selatan Bali yang berpotensi mengalami lonjakan kecepatan angin drastis.
Peta Bahaya: Tiga Zona Risiko Pelayaran
BMKG membagi wilayah perairan Bali menjadi tiga zona risiko berdasarkan ketinggian gelombang:
1.  Zona Kuning (Gelombang Sedang 1.25 – 2.5 meter):
    Terjadi di Selat Bali Bagian Selatan. Kondisi ini berisiko bagi perahu nelayan jika kecepatan angin melebihi 15 knot, serta kapal tongkang jika angin >16 knot.
2.  Zona Oranye (Gelombang Tinggi 2.5 – 4.0 meter):
    Terpusat di Selat Badung. Area ini menjadi tambahan risiko bagi operasional Kapal Ferry, terutama jika angin kencang melebihi 21 knot disertai gelombang di atas 2.5 meter.
3.  Zona Merah (Gelombang Sangat Tinggi 4.0 – 6.0 meter):
    Meliputi Perairan Selatan Pulau Bali dan Selat Lombok Bagian Selatan. Ini adalah zona paling berbahaya. Seluruh armada pelayaran, termasuk kapal besar seperti kargo dan kapal pesiar, dihimbau untuk ekstra hati-hati atau menunda perjalanan jika angin mencapai >27 knot.
Imbauan Ketat Bagi Nelayan dan Wisatawan
Menyikapi kondisi ini, BMKG memberikan sejumlah tips mitigasi mandiri:
*   Nelayan & Pelaku Wisata Bahari: Disarankan untuk menunda aktivitas melaut jika kondisi cuaca memburuk. Keselamatan nyawa lebih utama daripada hasil tangkapan atau jadwal wisata.
*   Penumpang Transportasi Laut: Pastikan kapal yang ditumpangi dilengkapi dengan life jacket (jaket pelampung) yang memadai dan selalu pantau informasi jadwal keberangkatan secara berkala karena kemungkinan adanya pembatalan atau penundaan.
*   Masyarakat Pesisir: Diminta waspada terhadap potensi rob atau pasang air laut tinggi yang dapat menggenangi pemukiman dekat pantai.
“Kami mengajak seluruh pihak untuk saling menjaga dan mengingatkan keluarga atau teman yang bekerja di sektor kelautan. Jangan ragu menghubungi pihak berwenang jika terjadi kondisi darurat,” demikian isi rilis resmi BMKG.
Hingga berita ini diturunkan, operator penyeberangan seperti ASDP Indonesia Ferry untuk rute Gilimanuk-Ketapang dan Benoa-Lembar dikabarkan tetap memantau kondisi cuaca secara real-time sebelum memutuskan pengoperasian kapal.