Petani Tembakau Kepoh Mulai Bernapas Lega, Harga Rajangan Kering Capai Rp43 Ribu/Kg

aksesadim01
20260809 114944 scaled

Kampungberita.com/BOJONEGORO – Musim panen tembakau di Desa Kepoh, Kecamatan Kepohbaru, Kabupaten Bojonegoro, mulai membawa angin segar bagi petani. Harga tembakau rajangan kering di tingkat petani kini berada pada kisaran Rp35 ribu hingga Rp43 ribu per kilogram.

 

Pergerakan harga tersebut menjadi kabar positif setelah petani melewati rangkaian panjang proses budidaya, mulai dari menyiapkan lahan, menanam, merawat tanaman, hingga memasuki masa panen dan pengolahan hasil.

 

Meski demikian, petani masih berharap harga dapat kembali mengalami kenaikan. Mereka membidik harga sekitar Rp50 ribu per kilogram, terutama untuk hasil panen dengan kualitas daun yang baik.

 

Subari, salah seorang petani tembakau di Dusun Bakalan, Desa Kepoh, mengatakan harga saat ini sudah cukup memberikan keuntungan dibandingkan kondisi sebelumnya.

 

“Saiki regane wes lumayan apik, Mas. Mugo-mugo mengko isih iso munggah maneh, ben regane tambah apik,” ujar Subari, Minggu (9/8/2026).

 

Menurutnya, harga tembakau tidak hanya ditentukan oleh jumlah hasil panen. Kualitas daun, tingkat kematangan saat dipetik, serta proses perajangan dan pengeringan turut menjadi faktor yang diperhatikan pembeli.

 

Saat memasuki petikan kedua, petani terlebih dahulu melakukan pemilahan daun. Daun yang dinilai sudah cukup matang dipisahkan sebelum menjalani proses perajangan.

 

Setelah dirajang, tembakau kemudian dikeringkan hingga siap dipasarkan. Tahapan tersebut menjadi bagian penting karena kualitas hasil pengeringan dapat memengaruhi nilai jual tembakau di tingkat pembeli.

 

Kondisi cuaca yang relatif kering juga cukup membantu petani. Proses penjemuran menjadi lebih mudah sehingga tembakau dapat dikeringkan secara maksimal sebelum dijual.

 

Namun, perjalanan musim panen masih belum berakhir. Petani masih akan menghadapi petikan berikutnya dan berharap harga tetap bertahan, bahkan meningkat ketika memasuki petikan ketiga hingga kelima.

 

“Kalau bisa sampai Rp50 ribu per kilogram tentu akan lebih baik bagi petani. Biaya tanam dan perawatan cukup banyak, jadi kami berharap harga terus membaik,” katanya.

 

Bagi petani, kenaikan harga menjadi hal penting untuk menjaga keseimbangan antara biaya produksi dan pendapatan. Pengeluaran selama satu musim tidak hanya mencakup pengolahan lahan dan bibit, tetapi juga perawatan, tenaga kerja, pemetikan, perajangan, hingga pengeringan.

 

Karena itu, harga jual yang lebih tinggi diharapkan mampu memberikan ruang keuntungan yang lebih baik sekaligus mengimbangi risiko yang dihadapi petani selama musim tanam.

 

Saat ini, aktivitas panen masih berlangsung di sejumlah lahan tembakau Desa Kepoh. Petani terus memetik daun yang telah matang, kemudian merajang dan menjemurnya sambil memantau perkembangan harga dari para pembeli.

 

Petani berharap harga tidak mengalami penurunan pada petikan berikutnya. Dengan kualitas tembakau yang tetap terjaga dan harga yang semakin membaik, mereka optimistis musim panen tahun ini dapat memberikan hasil yang lebih menggembirakan.

 

Bagi petani tembakau Kepoh, harga Rp35 ribu hingga Rp43 ribu per kilogram sudah menjadi tanda positif. Namun, harapan mereka masih sama: harga terus bergerak naik hingga menyentuh Rp50 ribu per kilogram.

(Tm/red)